News

Pertempuran Sengit di Latou Maret 1946


Pada tanggal 10 Maret 1946 tengah hari beberapa nelayan mengayuh sampannya begitu cepat, merapat dan menepi dipantai kemudian berlari menuju pemukiman. Kapal NICA banyak di peraian begitu singkat ucapannya dalam bahasa bugis. M.Jufri yang menerima berita tersebut melaporkan kepada pimpin PKR. M.Jusuf Arif menugaskan anggota PKR untuk segera mengevakuasi Datu Luwu dan Keluarganya ke Batuputih.
Dengan kawalan puluhan orang Andi Djemma dan rombongan menuju Batuputih dipimpin Landau menyertakan pasukan bersenjata. Sementara pasukan lainnya mengarahkan warga untuk memasuki hutan dan melakukan penjagaan di pesisir pantai.
Keesokan harinya 11 Maret 1946 pukul 06.00 regu jaga yang bertugas di pantai melihat beberapa perahu melintas menuju Pakue dan menyampaikan kepada Bedewi. Maka besegeralah Pimpinan PKR di Benteng Batuputi segera menyiapkan pasukan dan masyarakat.
Kepala Staf PKR menyerakan kepada Dan Sektor Patampanua untuk mengatur menghadangan dengan pertimbangan daerah telah familier dengannya. 4 (empat) sektor diatur oleh Badewi dengan formasi sebagai berikut : 7 orang bersenjata lengkap menuju Pakue dipimpin Badewi dan Halide, Ali.K dan Konggoasa, 5 orang bersenjata lengkap berjaga di jalan poros Lelewawo, dipimpin M. Yunus dan Konggoasa, 5 orang bersenjata lengkap menuju Pos jaga pantai Latou dipimpin Abd Wahid Rahim dan Tahrir, 11 orang bersenjata lengkap berada di sekitar Benteng Batuputih dipimpin Landau.
Landau memimpin penjagaan Datu dan keluarnya, sementara pimpinan PKR lainnya melakukan persiapan perpindahan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Tidak kurang dari jam 11.00 siang pasukan NICA berkekuatan 4 regu (kurang lebih 40 Orang) secara tidak sengaja berjalan dan memasuki daerah steling PKR di jalan Poros Latou.
Tentara NICA dengan menggunakan helm baja hampir seluruhnya berkulit gelap, diduga adalah KNIL dari Ambom dan Flores. Kontak senjata tak terelakkan.
Pasukan PKR dibawah pimpinan Badewi dengan menggunakan senjata M.95 steyr hemburg memuntahkan pelurunya kearah pasukan NICA. Jarak yang begitu jauh sehingga memudahkan NICA mengendap masuk di semak rerumputan lalu menyerang dengan tembakan yang bertubi-tubi.
Tembakan balasanpun tak kalah sengitnya. 7 orang PKR dengan amunisi terbatas melawan hampir 40 Tentara NICA dengan peralatan lengkap tidak sebanding. Regu Abd Wahid Rahim dan M Yunus mendengarkan suara tembakan kemudian bergerak maju berkumpul satu formasi.
Meski jarak begitu jauh tembak menembak tetap terjadi. Sesekali pasukan PKR melakukan zigzak namun gagal karena menghindari peluru-peluru Stand Gun tentara NICA. Kontak senjata terjadi sekitar 1 jam lamanya. Pasukan PKR bergerak mundur ke Purehu, sementara tentara NICA tidak melakukan mengejaran sampai kearah pegunungan. Mereka membakar rumah-rumah penduduk di Latou yang dicurigai. Sebelum gelap tentara NICA kembali ke Pos Induk mereka di Pakue.
Di malam harinya bertempat di benteng batuputih pimpinan PKR mengadakan konsolidasi dengan beberapa catatan antara lain :
1. Kapal-Kapal dan Motorboad tentara NICA telah merapat di pantai Pakue
2. Pakue merupakan daerah persiapan tentara NICA
3. Kekuatan tentara NICA diperkirakan 1 Pleton plus 60 prajurit boleh jadi lebih
4. Kontak senjata bermula di jalan poros Latou dan akhirnya memasuki kampung
5.Tembak menembak terjadi sekitar satu jam
6.Rumah-rumah penduduk Latou di bakar, Kebun dirusaki
7. Dari PKR maupun tentara NICA tidak ada yang jatuh korban Sesudah peristiwa 11 Maret 1946, Abd Kadir Ur. PHB PKR Luwu memerintahkan seorang anggota PKR untuk membawa surat Ke Palopo dan Masamba. Isi Berita antara lain di Latou telah terjadi pertempuran dan agar pasukan segera kembali setelah operasi selesai. Demikian halnya berita Pertempuran Latou sudah terdengar di Kolaka melalu seorang caraka anak bawaan Konggoasa.
Tanggal 19 Maret 1946 Andi Tenriadjeng yang pada saat itu dalam keadaan sakit telah tiba beserta pasukannya di Lanipa. Pada tanggal 20 Maret 1946, diterimalah berita dari Tolala bahwa telah terlihat 8 (delapan) perahu besar tentara NICA menuju Lelewawo, sementara penduduk Lelewawo melaporkan pula bahwa tentara NICA telah mendarat di Lelewawo dan beberapa perahu berlayar mengarah ke Latou dan Pakue. Laporan serta berita kedatangan tentara NICA segera diolah oleh Pimpinan PKR serta pasukan disiagakan.
Setelah pimpinan PKR mengadakan brifing maka bagian penyelidik PKR menyimpulkan beberapa hal antara lain :
1. Tentara NICA telah mendaratkan beberapa pasukan pengintainya di Lelewawo.
2. Delapan perahu besar dari Palopo berlabuh di luar pantai Pakue mengangkut pasukan dan peralatan
3. Latowu akan diserang dari 3(tiga) arah yaitu Pakue, Lelewawo
dan Muara Latou.
Malam itu juga pertemuan dilanjutkan dengan pembicaraan Strategi dan Taktik pertempuran dengan pengaturan antara lain :
1. Pasukan Andi Tenriadjeng telah tiba sehingga personil dan persenjataan bertambah serta pasukan I.M Ohiver, M. Yosph, W. Billbao dkk tetap dikirimkan berita ke Palopo.
2. Kompi 1 Kipas Hitam dipimpin Badewi membawahi 3 regu masing-masing
dipimpin oleh La Guli, Halide, Syamsuddin Opa bertugas digaris depan menghalau NICA dari arah pakue (sektor 1)
3. Kompi dua dipimpin Konggoasa Latambaga membawahi empat regu masing-masing dipimpin Abubeda, Tahrir, Andi Arsjad, Lantema bertugas melakukan serangan balasan dipintu masuk kampung Latou (sektor 1)
4. Kompi 3 dipimpin Andi Punna membawahi 4 regu masing-masing dipimpin Muh Jufri, Ali Kamri, SupuYusuf, M Yunus bertugas melakukan serangan menghalau dari arah gunung menuju pantai (sektor2)
5. Kompi 4 dipimpin Abd Wahid Rahim membawahi 3 regu masing-masing
Dipimpin Bakil Dahlan, Muh Nur Latamoro, Sarilawang bertugas melakukan serangan menghalau dari arah Lelewawo (sektor 3)
6. Regu Pengintai dipimpin Lappase hanya beranggotkan lima orang bertugas melakukan pengintaian dipesisir pantai
7. Kompi 5 dipimpin langsung Muh Arif di bantu Landa berada pada posisi pertahanan pos jaga jalan naik ke Benteng Batu Putih.
Sejak pagi hari tanggal 21 Maret 1946 seluruh pasukan PKR telah berada pada sektor pertempuran. Masyarakat diungsikan, Benteng Batuputih di jaga ketat serta sejumlah regu pasukan PKR melakukan patroli. Sekitar pukul 11.00 terdengar tembakan diudara dari arah Lelewawo diduga adalah tembakan isyarat dari pasukan PKR untuk memberitahukan pada sektor lainnya bahwa tentara NICA telah memasuki kampung dari arah utara bukan dari arah barat (Pakue).
Tembakan demi tembakan terdengar dan semakin jelas bahwa telah terjadi kontak senjata pada sektor Abd Wahid Rahim . Pasukan NICA membalas tembakan secara bertubi-tutubi. Peluru mortir dan rentetan tembakan senapan mesin tentara NICA tidak menurunkan semangat pasukan PKR.
Anggota Regu pengintai menyampaikan kepada Lappase bahwa seluruh pasukan NICA berada di pintu masuk kampung Latou, sehingga regu pada sektor 1 dan 2 diharapkan untuk menyatu di sektor 3. Selang beberapa saat seluruh regu telah berada di sektor 3 (tiga),yang telah membagi diri menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu jalan poros, arah perbukitan dan pesisir.
Kontak senjata tak terelakkan. Pasukan NICA bertahan berlahan bergerak maju lebih dari 2 jam. Karena kekurangan amunisi pasukan PKR bergeser mundur kearah perbukitan jalan menuju Benteng Batuputih.
Ketika tentara NICA berposisi di tengah kampung, 2 regu pasukan PKR dipimpin Badewi bergerak turun dari perbukitan menyerang secara mendadak, disusul Andi Baso Rahim, Mustafa, Arif dan Ahmad.
Sambil bertahan di rumah dan kebun penduduk tentara NICA menembak secara membabi buta hingga akhirnya harus mundur sampai ke pantai Latowu.
Sore harinya letusan senapan mesin, peluru mortir, dan senjata lars pendek terdengar hanya sesekali.
Di duga pasukan NICA menggunakan taktik lain yaitu mengendap,bertahan dan serangan prontal. Ini mereka lakukan karena di ketahui bahwa jumlah senjata dan peluru PKR sangatlah terbatas.
Menjelang malam, (dua perahu) merapat di pantai. Bantuan tentara NICA datang dari arah Pakue.Karena komunikasi terputus, gelap dan posisi belum diketahui maka terjadilah saling tembak antara tentara NICA yang bertahan di pesisir dengan tentara NICA yang tegah merapatkan perahunya.
Kontak senjata tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 20.00 tampak terlihat pasukan tentara NICA dengan menggunakan perahu secara tergesa-gesa meninggalkan pantai Latowu.
Pada saat Konsolidasi pasukan, Lappase membacakan beberapa catatan antara lain :
1. Penyerangan tentara NICA diawali dari arah utara bukan dari arah barat
2. Kontak senjata dimulai pukul 12.15 berakhir pada pukul 19.30
3. Sejumlah tempat pengendapan tentara NICA ditemukan ceceran darah dan bekas obat-obatan yang diduga beberapa pasukan NICA cedera
4. Andi Baso Rahim, Mustafa, Arif dan Ahmad cedera terkena pecahan peluru mortir.
5. Seluruh senjata utuh, Datu Luwu dan perangkat Hadat serta pimpinan PKR dalam keadaan aman
6. Masyarakat yang telah diungsikan dalam keadaan aman di Purehu
7. Kampung Latou dan Lelewao dapat dipertahankan dengan status kosong
PERTEMPURAN SUA-SUA, APRIL 1946
Kira –kira 1 minggu setelah pertempuran di Latou, Pasukan M Yosef tiba dari Palapo, Hal yang dinanti oleh KPN Sulewatan Andi Kasim dalam menyusun rencana perebutan Kota Kolaka. Rombogan berangkat dari kampung Batuputih 4 April 1946 melalui pegunungan hingga akhirnya berada di Lasusua sebelum melanjutkan perjalanan menuju Wawo.
Pada saat rombongan bermalam di Lasusua, Muhiddin dihampiri Wahabe anggota PKR Lasusua menceritakan beberapa hari yang lalu pemuda asal Lambai memberikan kabar bahwa Tentara NICA akan mendarat di Labuandala. Pertemuan diadakan dirumah keluarga Halide. Andi Kasim beserta M Yosef dan Abd Wahid Rahim memimpin jalan pertemuan. Hasil pertemuan malam itu menetapkan sket penghadangan sebagai berikut :
1. Halide menghimpun pemuda Lasusua, Ali Kamri menuju Lambai, Ranteangin dan Wawo untuk mengumpulkan massa
2. M.Yunus mengumpulkan masyarakat susua dan menyembunyikan di hutan
3. Pengintaian pantai Labuandala dipimpin Badewi
4. Sektor penyerangan ditetapkan 3 tempat yakni, Perbukitan Totallang oleh Konggoasa, Gunung karang Tojabi dipimpin Halide dan Muara Petudua/Pitulua oleh Hammase
Keesokan harinya tanggal 7 April 1946 setelah salat subuh, Komandan Pertempuran Martin Yosefh menggerakkan pasukan pada sektor sektor yang telah ditentukan.
Sementara pasukan Badewi sejak dinihari sudah mendahuli menuju Labuandala. Matahari belum condong keatas sekitar pukul 10.00 pagi, Dua buah perahu panjang bermotor menurunkan pasukan NICA di Labuandala dengan kekuatan tidak lebih dari 30 orang.
Regu Pengintai dari arah ketinggian melakukan stelin, memberikan informasi kepada sektor Konggoasa untuk diteruskan kepada sektor lainnya, bahwa benar Tentara NICA telah merapatkan perahunya di Labuandala.
Selang waktu beberapa saat pasukan NICA telah berada di puncak gunung, berjalan berlahan menuju kampung Lasusua. Hanya jarak tidak lebih dari 20 meter letusan senjata Konggoasa mengena paha salah seorang tentara NICA.
Pasukan NICA membalas tembakan bergerak mundur kekiri punggungug gunung. Tembak menembak terdengar oleh pasukan Halide dan memerintahkan pasukannya untuk tetap ditempat.
Tembakan demi tembakan terdengar jelas. Enam pucuk senjata tak dapat menahan laju perjalanan tentara NICA. Demikian halnya Pasukan Badewi yang telah bergabung dengan Pasukan Konggoasa hanya dapat menembak sekedarnya sambil mundur dan berlindung.
Tentara NICA telah memasuki kampung. Dari Karang Tojabi penyerangan dimulai. Blokade dilakukan oleh Halide dkk tidak dapat manghalau serangan balik tentara NICA.
Pasukan Konggoasa dan Badewi nyaris kocar kacir, mereka mengendap mengikuti pasukan NICA dari belakang. Halide dkk mundur mengikuti punggung gunung karang menuju arah Lambai.
Dari arah sungai besar pasukan Hammase yang seharusnya berjaga di muara, muncul dari semak belukar. Tanpa perhitungan yang matang beberapa dari mereka terkena siraman peluru dan tergeletak ditanah.
Pasukan Badewi yang berada di belakang pasukan NICA melakukan tembakan pengalihan, namun karena peluru terbatas pasukan NICA balik menyiramkan peluru peluru kearah pasukan Badewi dan Konggoasa sehingga berbalik mundur arah kebarat.
Daeng Parani tak dapat berlari segesit yang lain, tertangkap dan kaki nya berdarah dipukuli popor senjata.NICA menduduki kampung Sua-Sua hanya mendapati rumah-rumah penduduk yang sudah kosong.
Beberapa rumah, mesjid dan tempat-tempat yang mencurigakan di bakar.Pasukan Tentara NICA tidak berhasil menangkap pimpinan PKR.
Malam hari di Kampung Ranteangin dekat kebun saudara Rantegau, sebelum Yoseft memimpin pertemuan telah tiba rombongan M Yunus dan memberikan informasi bahwa, Rumah rumah dan mesjid kecil di Lasusua dibakar NICA, Kendati demikian Penduduk aman dan telah keluar dari persembunyian. Ambo Lala, Ambo Mani, Laki, Batara, Ahmad Pitulua, Uwwa Pallu tertembak dan gugur dan jenasahnya diurus oleh Hammase dan Imam kampung.
(Redaksi)

error: @mercyfmkolaka